Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menebak Cara China yang Abstain dan Akhirnya Perselisihan Rusia-Ukraina


China abstain dalam pengambilan suara di Sidang Umum PBB, Rabu (2/3/2022), yang menyesalkan agresi Rusia ke Ukraina.


Awalnya, China abstain di Dewan Keamanan PBB untuk mencela gempuran tersebut--yang diveto oleh Rusia--bersama India dan Uni Emirat Arab (UEA).


Diambil dari BBC Indonesia, Selasa (1/3/2022), beberapa riset awalnya memprediksi Beijing akan ikuti cara Rusia memveto mosi, tetapi bukti jika China tidak lakukan veto dipandang sebagai "kemenangan untuk Barat"--dan jadi kode sikap tidak menambahi masalah dalam negeri negara lain.


Akan tetapi, China jauh dari mencela keadaan yang terjadi. Jubir Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin bahkan juga menampik menggunakan istilah "agresi" untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan Rusia pada Ukraina.


Menurut pemerhati politik luar negeri, ini ialah sisi dari koalisi vital yang akan dibuat China dengan Rusia.


"Saya anggap mereka tidak mau agresi Rusia ini ke Ukraina menghancurkan usaha membuat koalisi vital dengan Rusia," tutur Direktur Institute of International Studies Kampus Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr Riza Noer Arfani, ke Kompas.com pada Sabtu (5/3/2022).


Riza meneruskan, cara itu diperlihatkan benar secara stabil sampai ke hari pengambilan suara di Sidang Umum PBB yang mencela gempuran militer Rusia ke Ukraina.


LI XUEREN/XINHUA lewat AP PHOTO Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato dalam upacara peringatan 100 tahun Partai Komunis China di Beijing, China, Kamis (1/7/2021). Partai Komunis China rayakan ulang tahun ke-100 dengan bermacam acara.Tetapi, Riza berasa China tidak main aman karenanya sisi dari taktik mereka saat terkait dengan Barat.


"Ini untuk China suatu hal yang perlu digerakkan untuk memperlihatkan jika mereka tidak dapat dijejak oleh Barat. China tidak mau terikut oleh permainan Barat," bebernya.


Di bagian lain, Dosen Politik Luar Negeri UNISA Bandung dan Produser Box2Box Media Network, Aun Rahman, menyebutkan China abstain untuk mengangsung cara yang lebih vital.


"Mereka belum juga dapat tentukan sikap, karena: Satu, jika misalkan mereka ngomong mereka melawan pada hukuman buat Rusia, kaya Korea Utara--yang jelas mereka tidak sepakat--takutnya dapat ancaman atau permasalahan," jelas Aun saat dikontak Kompas.com, Kamis (3/3/2022)


"Tetapi di bagian lain, Tiongkok (China) takut pegangan mereka ke Rusia terlepas. Jika misalkan memberikan dukungan Rusia kelak jalinan mereka dengan beberapa negara lain hancur, tetapi jika misalkan tidak memberikan dukungan Rusia kelak ribet."


"Tempatnya China cukup di status yang susah, jadi mereka masih coba cari cara vital, pada akhirnya stalling istilahnya. Bilangnya abstain."


Aun juga meramalkan, bila China abstain sekitar itu maka ada percakapan kembali, akan ada resolusi perselisihan kembali yang akan datang, dan China tentu diikutsertakan.


China serba salah, tetapi...


ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT Demonstran yang bergabung dalam Kebersamaan untuk Rakyat Ukraina lakukan tindakan damai di depan Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Jumat (4/3/2022). Dalam laganya itu mereka mengatakan untuk menghentikan operasi militer Rusia pada Ukraina dan diwujudkannya perdamaian.Dalam pada itu, Abdul Top periset Senior di Centre for Kebijakan Studies and Data Analysis (Cyda Indonesia) menjelaskan, China diam saja dituding, apa lagi bila ambil sikap.


"Rusia dan China punyai type sama, bila mereka terganggu, mereka akan membalasnya."


"China diam, karena secara politik, mereka tidak turut serta langsung dalam perang. Justru China bisa banyak mengambil keuntungan dari ancaman Eropa ke Rusia, masalah ekonomi," jelasnya lewat pesan text ke Kompas.com, Kamis (3/3/2022).


"Yang memikat kelak, bagaimana akhir perang ini, akan tentukan arah politik Eropa dan Rusia."


"Bila Rusia menang, NATO tidak pernah sampai tempatkan senjata militernya di batasan-batas Rusia sekalian menarik Ukraina sebagai partner vital."


"Bila Ukraina tetap dengan Zelensky yang saat ini, secara perlahan-lahan Uni Eropa akan menolong semua kerusakan karena perang sekalian tergabung dengan Uni Eropa dan NATO," tandas Top, yang mengepalai Pusat Study Media, Literatur, dan Kebudayaan (Puska Terbuka).

Post a Comment for "Menebak Cara China yang Abstain dan Akhirnya Perselisihan Rusia-Ukraina"